Orasi Ilmiah Guru Besar Institut Teknologi Bandung: Peran Energi Nuklir dalam Mendukung Net Zero Emmision Indonesia: Pentingnya Non proliferasi nuklir dan Pemanfaatan Teknologi Reaktor Maju serta Implementasinya

Penulis: Prof. Sidik Permana
Reviewer: Prof. Zaki Su’ud

Penerbit: ITB Press

ISBN: 978-623-297-410-4
e-ISBN: 978-623-297-411-1 (PDF)

Sinopsis

Persoalan-persoalan kedepan yang perlu dihadapi oleh penduduk bumi saat ini telah menjadi konsern tersendiri terutama bagi penggiat energi dan lingkungan dalam rangka memenuhi tuntutan perkembangan dunia dan juga trend gaya hidup yang terjadi akibat semakin modernnya era teknologi dan banyaknya negara-negara industri baru bermunculkan. Berdasarkan pengamatan Richard Smalley yang merupakan salah satu penerima hadiah Nobel Laureate (Bidang Kimia 1996), beliau memaparkan bahwa ada 10 permasalah dunia teratas dala jangka waktu 50 tahun kedepan dan dalam pengamatannya, energi menjadi prioritas atau menjadi permasalah utama dibandingkan permasalahan lainnya. Prioritas permasalahn energi menjadi nomor satu dibandingkan dengan permasalah air, makanan bahkan lingkungan. Setiap aktifitas manusia dapat berkontribusi bagi pemanasan global dengan porsinya masing-masing. Proses pembangkitan energi menjadi konsern tersendiri dikarenakan proses ini berkontribsui terbanyak bagi pemanasan global yang secara cukup efektif bisa dikontrol gas buangnya apabila bisa dipilih jenis bahan bakar atau managemennya agar tidak menghasilkan atau terkurangi gas rumah kacanya langsung ke atmosfer. Skenario Emisi Nol Bersih pada tahun 2050 (Skenario NZE) adalah skenario normatif yang menunjukkan jalur bagi sektor energi global untuk mencapai nol emisi CO2 pada tahun 2050, dengan negara-negara maju mencapai nol emisi bersih lebih dulu dibandingkan negara-negara lain. Target penerapan program NZE masing-masing negara yang berbeda-beda, tetapi secara umum rata-rata pada sekitar tahun 2050. Ada target NZE yang lebih cepat yaitu negara dieropa seperti Swedia dan Jerman, sementara ada juga yang mentargetkan NZE mereka di tahun 2070 seperti India. Sedangkan Indonesia program NZE-nya tercapai di 2060 sepeti halnya Cina. Indonesia mempunyai peta jalan program Net Zero Emission (NZE) 2060, sebagai bagian dari komunitas internasional dalam merespon pandangan global dan kebutuhan nasionalnya.

Program NZE yang telah diumumkan dalam upaya memenuhi kebutuhan energi nasional secara bertahap dan saat yang sama program ini mengkombinasikannya dengan program pengurangan emisi CO2 sebagai program ambisius nasional dengan penekanan pada pemanfaatan energi hijau atau energi rendah emisi di Indonesia. Kebijakan NZE ini akan memperkuat sumber daya energi hijau nasional berbasis pada sumber daya energi baru dan terbarukan (EBT). Melalui program NZE ini, kontribusi EBT akan dominan dan pada saat yang sama energi fosil akan berkurang secara bertahap sebelum tahun 2060. Pemanfaatan energi nuklir untuk aplikasi energi diantaranya untuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dan aplikasi kogenerasi energi seperti desalinasi air, produksi hidrogen, untuk aplikasi gasifikasi dan pencairan batubara dan peningkatan pemulihan minyak (EOR) yang dapat digunakan untuk program NZE sebagai bagian multi fungsi pemanfaatan energi. Buku ini dibuat dalam rangka menunjukkan kontribusi energi nuklir terhadap implementasi Program Net Zero Emission (NZE) di Indonesia sebagai bagian penting EBT dengan emisi karbon rendah. Selain itu analisa pemanfaatan PLTN baik yang berdaya besar, sedang dan kecil serta daya mikro, yang dapat dimanfaatankan diseluruh Indonesia berdasarkan kebutuhan beban daya dan wilayah. Implementasi program nuklir dapat memenuhi kebutuhan daya di beberapa program pemerintah terkait daerah industri dan ekonomi khusus di Indonesia dan juga program de-dieselisasi dalam rangka mengganti pembangkit diesel dengan energi baru terbarukan (EBT). Analisa Gap terhadap kebutuhan daya dan potensi suplai sumber daya energi serta roadmap implementasi energi nuklir di Indonesia juga di sampaikan pada bagian akhir buku ini.

Analisa keunggulan kompetitif energi nuklir, evaluasi berdasarkan program emisi nol bersih yang difokuskan pada kontribusi program PLTN, analisis daya saing ekonomi PLTN dengan mengadopsi biaya yang diratakan metodologi LCOE, evaluasi berdasarkan strategi pemetaan skala kapasitas listrik PLTN untuk kebutuhan listrik di Indonesia, analisis dan pemetaan pemanfaatan PLTN untuk tujuan khusus kawasan ekonomi atau industri khusus dan program de-dieselisasi yang merupakan sebagian program nasional program proyek elektrifikasi untuk daerah terpencil dan zona terisolasi telah di evaluasi. Dalam program NZE, energi nuklir sebagai bagian dari energi baru dan terbarukan berkontribusi pada bauran energi nasional mulai tahun 2040 untuk kontribusi NPP secara akumulatif 8-10% dan demikian akan terus mengalami kenaikan. Dengan demikian pembangunan dan persiapan harus segera dilakukan di tahun 2023-2025 ini. Program nuklir harus dilaksanakan mulai dari perencanaan, persiapan dan investasi serta penyiapan sumber daya manusia dan beberapa infrastruktur lain untuk program energi nuklir.

Sebagai bagian dari rekomendasi, analisis LCOE PLTN telah dilakukan dan menunjukkan bahwa LCOE PLTN di Eropa berkisar antara 42 USD/MWh sampai dengan 102 USD/MWh, dan LCOE di Amerika Serikat dapat dilihat pada kisaran 71. Analisis serupa telah dilakukan untuk LCOE di Asia yang menunjukkan bahwa LCOE di Asia berkisar antara 50 USD/MWh hingga 87 USD/MWh. LCOE untuk tipe SMR diperkirakan memiliki nilai rata-rata 60 USD/MWh dan nilai maksimum LCOE sekitar 90 USD/MWh. Berdasarkan 26 kawasan industri, memiliki rentang kebutuhan listrik 10 MWe hingga kisaran daya 1000 MWe. Penyebaran program de-dieselisasi sangat tersebar di seluruh pulau di Indonesia dan daerah tersebut memiliki kebutuhan listrik tergantung daerahnya untuk kebutuhan listrik berkisar antara 0,6 MWe sampai dengan 550 MWe. Energi nuklir berkontribusi sebesar 18 % yang setara dengan 324 TWh pada tahun 2060 sebagai bagian dari program NZE. Ini menunjukkan Pulau Jawa akan memiliki sekitar 214 TWh listrik dari energi nuklir, sedangkan pulau Sumatera akan menggunakan 64 energi Nuklir dan pulau lainnya Kalimantan, Sulawesi dan sisanya akan menggunakan masing-masing 14,4 TWh, 16,7 TWh dan 14,2 TWh. Jika kebutuhan listrik dalam TWh diubah menjadi kapasitas daya pembangkit listrik, maka akan setara dengan kapasitas daya PLTN sekitar 46 GWe  dengan rincian kontribusi berdasarlan data statistik saat ini, bahwa pulau Jawa membutuhkan kapasitas terpasang PLTN di tahun 2060 sekitar 30,3 GWe, pulau sumantra 9 GWe dan pulau lainnya membutuhkan 2-2,4 GWe. Sebagai bagian dari analisa gap, evaluasi kontribusi energi terbarukan (ET) telah dilakukan dan di asumsi ET dapat dimanfaatkan 100% dari potensi ET (430 GWe atau setara 1159 TWh) dan untuk memenuhi gap ke 1800 TWh, energi fosil dan energi nuklir dapat mengisi gap tersebut. Apabila kontribusi EBT 100% yaitu energi terbarukan dan nuklir menjadi 100%, maka kontribusi energi nuklir dapat memenuhi gap tersebut menjadi 641 TWh untuk memenuhi target NZE listrik sekitar 1800 TWh ditahun 2060. Energi nuklir diperkirakan beroperasi dan berkontribusi pada bauran energi nasional mulai di periode 2030-2035 dan 2035-2040, dan berdasarkan beberapa skenario dan PLTN harus diimplementasikan sebagai program NZE mulai tahun 2023-2024 untuk mencapai operasi awal tahun 2030-an. Dalam penyelenggaraan tenaga nuklir, diperlukan suatu NEPIO atau Organisasi Pelaksana Program Tenaga Nuklir yang bertugas melaksanakan program tenaga nuklir mulai dari perencanaan, persiapan dan investasi serta menyiapkan sumber daya manusia dan beberapa infrastruktur lain untuk program energi nuklir.

UkuranB5
Halaman229
CoverDoff
Detail

Untuk akses e-book kunjungi link berikut:

Untuk pemesanan hubungi nomor:

  • (022) 2512532 (FGB ITB)
  • +62-877-8806-6848 (WhatsApp ITBPress)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *